BIOREMEDIASI
(Jurnal)
Pendahuluan
Bioremediasi
merupakan pengembangan dari bidang bioteknologi lingkungan dengan memanfaatkan
proses biologi dalam mengendalikan pencemaran. Bioremediasi bukanlah konsep
baru dalam mikrobiologi terapan, karena mikroba telah banyak digunakan selama
bertahun-tahun dalam mengurangi senyawa organik dan bahan beracun baik yang
berasal dari limbah rumah tangga maupun dari industri. Hal yang baru adalah bahwa teknik
bioremediasi terbukti sangat efektif dan murah dari sisi ekonomi untuk
membersihkan tanah dan air yang terkontaminasi oleh senyawa-senyawa kimia
toksik atau beracun.
Keberhasilan
proses bioremediasi harus didukung oleh disiplin ilmu lain seperti fisiologi
mikroba, ekologi, kimia
organik, biokimia, genetika molekuler, kimia air, kimia tanah, dan juga teknik.
Mikroba yang sering digunakan dalam proses bioremediasi
adalah bakteri, jamur, yis, dan alga. Degradasi senyawa kimia oleh mikroba di
lingkungan merupakan proses yang sangat penting untuk mengurangi kadar
bahan-bahan berbahaya di lingkungan, yang berlangsung melalui suatu seri reaksi
kimia yang cukup kompleks. Dalam proses degradasinya,
mikroba menggunakan senyawa kimia tersebut untuk pertumbuhan dan reproduksinya
melalui berbagai proses oksidasi.
Tanpa
adanya mikroba, proses penguraian di lingkungan tidak akan berlangsung.
Kotoran, sampah, hewan, dan tumbuhan yang mati akan menutupi permukaan bumi,
suatu kondisi yang tidak akan pernah kita harapkan. Sebagai akibatnya, siklus
nutrisi atau rantai makanan akan terputus.
Lintasan
biodegradasi berbagai senyawa kimia yang berbahaya dapat dimengerti berdasarkan
lintasan mekanisme dari beberapa senyawa kimia alami seperti hidrokarbon,
lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Sebagian besar dari prosesnya, terutama
tahap akhir metabolisme, umumnya berlangsung melalui proses yang sama. Polimer
alami yang mendapat perhatian karena sukar terdegradasi di lingkungan adalah
lignoselulosa (kayu) terutama bagian ligninnya.
Bioremediasi pada
lahan terkontaminasi logam berat didefinisikan sebagai proses membersihkan (clean
up) lahan dari bahan-bahan pencemar (pollutant) secara biologi atau
dengan menggunakan organisme hidup, baik mikroorganisme (mikrofauna dan
mikroflora) maupun makroorganisme (tumbuhan) (Onrizal, 2005).
Jenis-jenis
bioremediasi adalah sebagai berikut:
Nutrien
dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah
yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang
telah ada di dalam air atau tanah tersebut.
Mikroorganisme
yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu ditambahkan ke dalam air
atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan dalam
menghilangkan kontaminasi di suatu tempat. Namun ada beberapa hambatan yang
ditemui ketika cara ini digunakan. Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs
yang tercemar agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan
belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam bioremediasi,
dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang asing kemungkinan sulit
untuk beradaptasi.
Bioremediasi Intrinsik
Bioremediasi
jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar.
Latar belakang
Perkembangan
pembangunan di Indonesia khususnya bidang industri, senantiasa meningkatkan
kemakmuran dan dapat menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat kita. Namun di
lain pihak, perkembangan industri memiliki dampak terhadap meningkatnya
kuantitas dan kualitas limbah yang dihasilkan termasuk di dalamnya adalah
limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Bila tidak ditangani dengan baik dan
benar, limbah B3 akan menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Pencemaran
atau polusi bukan merupakan hal baru, bahkan tidak sedikit dari kita yang sudah
memahami pengaruh yang ditimbulkan oleh pencemaran atau polusi lingkungan
terhadap kelangsungan dan keseimbangan ekosistem.
Polusi
dapat didefinisikan sebagai kontaminasi lingkungan oleh bahan-bahan yang dapat
mengganggu kesehatan manusia, kualitas kehidupan, dan juga fungsi alami dari
ekosistem. Walaupun pencemaran lingkungan dapat disebabkan oleh proses alami,
aktivitas manusia yang notabenenya sebagai pengguna lingkungan adalah sangat
dominan sebagai penyebabnya, baik yang dilakukan secara sengaja ataupun tidak.
Berdasarkan
kemampuan terdegradasinya di lingkungan, polutan digolongkan atas dua golongan:
1. Polutan yang
mudah terdegradasi (biodegradable pollutant), yaitu bahan seperti sampah yang
mudah terdegradasi di lingkungan. Jenis polutan ini akan menimbulkan masalah
lingkungan bila kecepatan produksinya lebih cepat dari kecepatan degradasinya.
2. Polutan yang
sukar terdegradasi atau lambat sekali terdegradasi (nondegradable pollutant),
dapat menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius.
Bahan polutan yang banyak dibuang ke lingkungan terdiri dari bahan pelarut (kloroform, karbontetraklorida), pestisida (DDT, lindane), herbisida (aroklor, antrazin, 2,4-D), fungisida (pentaklorofenol), insektisida (organofosfat), petrokimia (polycyclic aromatic hydrocarbon [PAH], benzena, toluena, xilena), polychlorinated biphenyls (PCBs), logam berat, bahanbahan radioaktif, dan masih banyak lagi bahan berbahaya yang dibuang ke lingkungan, seperti yang tertera dalam lampiran Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.
Bahan polutan yang banyak dibuang ke lingkungan terdiri dari bahan pelarut (kloroform, karbontetraklorida), pestisida (DDT, lindane), herbisida (aroklor, antrazin, 2,4-D), fungisida (pentaklorofenol), insektisida (organofosfat), petrokimia (polycyclic aromatic hydrocarbon [PAH], benzena, toluena, xilena), polychlorinated biphenyls (PCBs), logam berat, bahanbahan radioaktif, dan masih banyak lagi bahan berbahaya yang dibuang ke lingkungan, seperti yang tertera dalam lampiran Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.
Untuk
mengatasi limbah (khususnya limbah B3) dapat digunakan metode biologis sebagai
alternatif yang aman, karena polutan yang mudah terdegradasi dapat diuraikan
oleh mikroorganisme menjadi bahan yang tidak berbahaya seperti
dan
O. Cara biologis
atau biodegradasi oleh mikroorganisme, merupakan salah satu cara yang tepat,
efektif dan hampir tidak ada pengaruh sampingan pada lingkungan. Hal ini
dikarenakan tidak menghasilkan racun ataupun blooming (peledakan jumlah
bakteri). Mikroorganisme akan mati seiring dengan habisnya polutan dilokasi
kontaminan tersebut.


Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas mata kuliah bioteknologi Pertanian II , dengan judul Bioremediasi.
Selain itu penting bagi kami untuk mempelajari lebih lanjut tentang
bioremediasi tanah karena kami bagian dari mahasiswa Fakultas Pertanian yang
diharapkan bisa mengaplikasikan keilmuannya dalam menangani pencemaran
lingkungan.
Di masa yang akan datang,
mikroorganisme rekombinan dapat menyediakan cara yang efektif untuk mengurangi
senyawa-senyawa kimiawi yang berbahaya di lingkungan kita. Bagaimanapun,
pendekatan itu membutuhkan penelitian yang hati-hati berkaitan dengan
mikroorganisme rekombinan tersebut, apakah efektif dalam mengurangi polutan,
dan apakah aman saat mikroorganisme itu dilepaskan ke lingkungan. Untuk itulah,
mempelajari bioremediasi adalah penting untuk pengembangan penelitian yang
dimaksud.
Pencemaran lingkungan tanah belakangan
ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan
menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah
umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui
kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat
mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner
dan Leyval, 2001 dalam Madjid, 2009).
Bioremidiasi
tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri
pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil
penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari
bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam
berat (Fleibach,
et al, 1994 dalam Madjid, 2009)..
Cendawan ektomikoriza
dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui
akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan “extrahyphae slime” (Aggangan
et al, 1997 dalam Madjid, 2009). sehingga mengurangi serapannya ke dalam
tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan
toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza
memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam
bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam
hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi
hifa ekternal.
Polusi logam berat pada ekosistem
hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya
perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993 dalam Madjid,
2009). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan
(tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan
kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi.
Penelitian Aggangan et al (1997) dalam
Madjid (2009) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih
berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada
tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi
dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l.
Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan
terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari
tegakan Eucalyptus yang tidak tercemar logam berat.
Upaya bioremediasi lahan basah yang
tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah
pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan
memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira
et al, 2001 dalam Madjid, 2009) menunjukkan bahwa Phragmites australis
dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual
dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan
lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju
perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) dalam
Madjid (2009) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar
oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri
berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan
reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan.
Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang
melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat.
Tanaman yang tumbuh pada limbah
pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) dalam Madjid (2009)
menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12
diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah
batubara tersebut, ditemukan adanya “oil droplets” dalam vesikel akar
mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan
beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.
Mikoriza juga dapat melindungi tanaman
dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham,
1994 dalam Madjid dan Novriani : 2009). Mekanisme perlindungan terhadap logam
berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi,
menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa
cendawan. Khan (1993) dalam Madjid dan Novriani (2009) menyatakan bahwa vesikel
arbuskular mikoriza (VAM) dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di
lahan buangan limbah industri, tailing tambang batubara, atau lahan terpolusi
lainnya. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha
penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik.
Mikroba indigen
merupakan mikroba alamiah atau mikroba setempat. Pada lahan pertanian,
penggunaan pestisida yang berlangsung lama akan menekan pertumbuhan mikroba
indigen yang berfungsi untuk merombak senyawa toksik (organofosfat) tersebut.
Karena itu, diperlukan pengisolasian mikroba di laboratorium.
Organofosfat
merupakan pestisida yang memiliki toksisitas yang tinggi. Pestisida golongan
organofosfat merupakan jenis pestisida yang banyak digunakan di Indonesia,
khususnya untuk mengendalikan hama sayuran dan padi. Senyawa aktif pestisida
golongan organofosfat seperti metil parathion. Menurut Lakshmirani dan
Lalithakumari (1994) dalam Tisnadjaja (2001), Pseudomonas putida mampu
untuk menggunakan metil parathion sebagai sumber karbon dan sumber fosfor dalam
pertumbuhannya. Pada tahap pertama dari proses degradasi, enzim organofosforus
acid anhudrase yang dikeluarkan oleh P. putida menghidrolisis metil
parathion menjadi p-nitrophenol. Sementara p-nitrophenol dikonversi lebih
lanjut menjadi hydroquinone dan 1,2,4 benzenetriol yang akan dirubah lebih
lanjut menjadi maleyl acetate.
Pseudomonas
putida mampu tumbuh dalam media sederhana (LB)
dengan mengorbankan berbagai macam senyawa organik dan mudah diisolasi dari
tanah (batubara, tembakau) dan air tawar. Pertumbuhan optimalnya antara
25-30⁰C. P. putida mampu mendegradasi benzena, toluena, dan Ethylbenzene
(Genome, 2011).
Perlu dipahami
bahwa tingkat pertumbuhan mikroba yang lebih baik tidak selalu diikuti oleh
terjadinya proses degradasi yang tinggi, namun begitu bila pertumbuhan terlalu
rendah maka tidak akan terjadi proses biodegradasi yang signifikan. Tingkat
ketersediaan glukosa sebagai sumber karbon dalam media menpunyai pengaruh nyata
pada tingkat degradasi, hal ini berkaitan dengan tingkat pertumbuhan yang
dicapai (Tisnadjaja, 2001).
Selain masalah di
atas, enzim-enzim degradatif yang dihasilkan oleh mikroba tidak mampu mengkatalis
reaksi degradasi polutan yang tidak alami, kelarutan polutan dalam air sangat
rendah, dan polutan terikat kuat dengan partikel-partikel organik atau partikel
tanah. Selain itu, pengaruh lingkungan seperti pH, temperatur, dan kelembapan
tanah juga sangat berperan dalam menentukan kesuksesan proses bioremediasi
(Munir, 2006)
Daftar Pustaka
Seregeg, I.G. 1998. Efektivitas Saringan
Bioremediasi Tnaman Mendong (Scirpus littoralis Schard), Kangkung (Ipomea
acuatica Forsk) dan Tales-Talesan (Typhonium Miq) melalui Uji Coba Lapang Skala
Kecil dan Simulasi di Laboratorium [ Disertasi ], Bogor, Institut Pertanian
Bogor, Program Pascasarjana.
Haryoto, K. 1999. Kebijakan dan Strategi
Pengolahan Limbah dalam Menghadapi Tantangan Global. Di dalam : Teknologi Pengolahan
Limbah dan Pemulihan Kerusakan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional, Jakarta
13 Juli 1999, BPPT, Jakarta.
Sudarmaji,
J.Mukono, Corie I.P. 2006. Toksikologi Logam Berat B3 dan Dampaknya terhadap
Kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol 2 Nomor 2, Januari 2006, Halaman
129 – 142.
Watanabe, Kazuya. 2001. Microorganisms relevant to bioremediation. Journal
environmental biotechnology vol 12 halaman 237 – 241.
Walter, M. V. 1997. Bioaugmentation. Ch. 82 in Manual of Environmental
Microbiology. Christon J. Hurst (Ed). ASM Press. Washington DC.
kamriantiramli.
2011. Pembahasan - Bioremediasihttp://kamriantiramli.wordpress.com/2011/06/15/pembahasan-bioremediasi/.
Diakses pada 20 maret 2012
mau baca kok keganggu sama tulisan y mutar2 kayak ular, jdi kesal deh !!!
BalasHapus